Haruskah Kita Menjauhi Penguna Narkoba

Haruskah Kita Menjauhi Penguna Narkoba


Dua tahun silam, ketika saya diberangkat KNPI Magetan diacara JPID Jatim 2015 bersama perwakilan PPMI se-Jatim di Yonkav Tang 08 Beji Pasuruan, dalam sesi seresehan di Aula Yonkav dengan tema "Menjauhui Narkoba" yang diisi langsung oleh salah satu komandan Yonkav Tang 08.

Pada saat itu yang sampaikan dalam seresehan adalah, kita sebagai pemuda harus menjauhi penguna narkoba, biar kita tidak terjerumus dan memakai narkoba, dalam sesi seresahan narasumber menjelaskan bahaya narkoba dan dampaknya keseluruh audien yang ada di aula, kalau nggak salah acara slsai sampai jam 10 malam.

Ketika selesai acara saya dan kawan- kawan perwakilan dari Magetan dan seluruh Jatim kembali ke camp yang ada di lapangan yonkav, ketika waktunya tidur kawan-kawan perwakilan dari KNPI seluruhnya mengadakan diskusi di pinggir camp, membahas tentang tema acara seresahan yang menurut kawan-kawan yang tidak pas tema-nya, salah satu cetukan kawan perwakilan dari Tuban " kita itu bukan menjauhi, tapi mendekati mereka.

Point yang saya ambil dari celutukan kawan dari Tuban adalah, bukan saatnya kita menjauhi penguna narkoba, tapi kita merangkul mereka untuk kembali kejalan yang benar, bukan lagi kita menjauhi tapi merangkul mereka, mungkin bagi adik-adik dari PPMI memang masih dalam tahap menjauhi, tapi bagi kita bukan lagi menjauhi tapi mendekati.

‌*Kenapa kita harus mendekati penguna narkoba*

Mendekati mereka bukan sebuah kesalahan yang besar, jika kita mempunyai tujuan yang baik maka akan menjadi kebaikan, mendekati mereka, merangkul mereka untuk menjauhi dari dunia hitam adalah perbuatan yang sangat mulia.

Bagi saya mendekati mereka adalah wajib, mendekati dengan cara mengikuti alur mereka, dan memberikan pemasukan sedikit, terkadang mengikuti mereka juga harus mengikuti mereka, ada kata-kata "jika kita menolong orang tengelam di sungai kita akan basah untuk menolongnya".

Kemungkinan besar kita juga akan masuk diperangkap mereka atau mengikuti dunia mereka, tapi kalau tidak mengikuti alur mereka, kita sendiri tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari dunia hitam atau dari kecenderungan narkoba.

Ada cerita dari dari kawan dari Tuban, dia menyelamatkan anak punk yang liar dan moralnya rusak yang diakembalikan menjadi anak yang moralnya baik, dia sampai mengikuti alurnya terjerumus narkoba demi menyelamatkan mereka, bahkan setiap jumat pagi anak-anak punk mengadakan kegiatan baksos di pasar-pasar, bahkan mereka tidak menyeruh anak-anak punk untuk berbaju formal, dari kutipan cerita diatas, haruskah menjauhi mereka yang kecaduan narkoba?

‌*Kenapa kita harus menjauhi penguna narkoba"

Memang wajib kita harus menjauhi penguna narkoba, kalau kita masih penasaran dengan narkoba, dan kita masih mempunyai rasa ingin tau dengan narkoba, narkoba sangat membunuh kita, narkoba adalah candu bagi pengunanya.

Bagi adik-adik yang masih labil sangat riskan jika dia mendekati narkoba, karena dia sangat penasaran dengan narkoba maka dia akan terjerumus untuk memakainya, ketika dia sampai memakai jenis narkoba apapun, maka dia akan kecanduan dan akan merusak masa depan mereka.
                                         ****
Dari tulisan diatas, maka menjauhi narkoba wajib bagi adik-adik yang belum siap, tapi bagi mereka yang sudah dewasa untuk menyikapi bahaya narkoba, mendekati mereka penguna narkoba adalah wajib untuk menyelamatkan mereka. Terima kasih semoga bermanfaat tulisan ini

Dimana

Dimana Kau

Dimana aku harus mengadu

Dimana aku harus bersimpu

Dimana aku harus bercerita

Dimana aku harus bertanya

Bukankah kepadamu wahai Robku


Dimana letakMu berada

Dimana posisiMu berada

Dimana aku harus mencarinya

Dimana aku harus menujunya

Bukankah Kau semayam di dalam dada


Ari Kimura 11/04/2017

Setelah Kita

Hembusan terdengar merdu di hidung mancung gadis manis berambut panjang yang tengah menunggu seseorang yang lama ia nanti. Dua tahun lamanya penantian yang ia tunggu berakhir dengan sebuah senyuman manis di bibirnya. Debaran terdengar merdu bersamaan dengan kupu-kupu yang siap keluar dari perutnya. Deretan giginya terlihat berjejer rapi melihat sosok jangkung tengah berdiri tegap di ambang pintu masuk cafe. 

Tangan gadis itu ia lambaikan ke atas agar sang pria mengetahui keberadaannya. Alfa, nama pria itu. Pria itu tersenyum dan mendekati Riska, sosok gadis yang sangat ia cintai dua tahun yang lalu tentu sekarang pun masih sama, pria itu masih mencintainya. 

Duduk berhadapan tanpa ada rasa canggung di keduanya. Masalah mereka seolah menjadi abu tanpa bekas karena terbang bersama angin. Sang pelayan mendekati mereka dengan membawa pesanan yang sudah gadis itu pesan sebelum Alfan memintanya. Satu buah jus storbery milk dan satu cangkir kopi pahit sudah berjejer manis di depan sang pemiliknya. Alfa tersenyum hangat melihat secangkir kopi kesukaannya berada di depannya. Dengan segera ia mengambil pegangan cangkir dan meminumnya sedikit. Sedangkan Riska ia menyeruput jus yang ia pesan.

“Kau masih sama.” Riska menghentikan aktifitasnya dan menatap Alfa dalam. Tersenyum sebagai jawaban atas apa yang pria itu lontarkan. Kembali terdiam tanpa alasan. 

“Ada yang ingin aku katakan padamu.” Alfa menatap Riska detik berikutnya. Entah kenapa keringat dingin memenuhi peluh pria itu ketika gadis yang pernah singgah di hatinya mengeluarkan sebuah  map berwarna coklat. Pria itu tahu betul apa yang dimaksud Riska. Gadis itu menginginkan sesutau darinya.
“Kau tidak lupa dengan surat ini kan?” Pertanyaan yang sama dua tahun silam gadis itu lontarkan. Pria bermata sipit itu tersenyum canggung dan sedikit mengangguk paham.

Dua tahun yang lalu memang kesalahan Alfa yang sudah dengan teganya meninggalkan gadis yang sangat tulus mencintainya, beralih pada cinta yang lain. Ironis memang tapi itu memang takdir bagi keduanya. Takdir pria itu yang menyakiti gadis belia yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Wajah manis Riska yang awalnya selalu tersenyum berubah menjadi gadis pemurung, tapi ketika Alfa datang padanya dan memberikan surat perjanjian tentang dirinya membuat gadis itu kembali bersemangat untuk menjalani hidupnya. 

“Kau lupa?’ ulang Riska memastikan.

Gelengan kepala sebagai sebuah jawaban dari pertanyaan gadis itu. Riska tersenyum miring melihatnya. Tahu betul jika Alfa tidak ingin mengungkit tentang surat perjanjian yang telah mereka buat, tapi ini kesempatan bagi Riska untuk kembali seperti semula. Kembali menjadi sosok yang ceria dan selalu bahagia, tentunya tanpa beban. 

Kertas putih berisi dua lembar sudah siap melahap pria itu hidup-hidup. Air liur terdengar menggelikan bagi telinga Riska ketika pria itu menelannya pelan-pelan. Senyum licik kembali terlihat di mimik wajah Riska yang siap merebut semua kebahagiaan yang Alfa ciptakan dan yang sudah tega pria itu menghancurkan rasa kepercayaan diri gadis itu ketika ia masih belia.

“Maafkan aku.” Hanya ucapan maaf yang bisa Alfa berikan pada Riska. Tidak ada jawaban dari Riska, gadis itu tetap kukuh dengan apa yang sudah ia sepakati dengan Alfa sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaan mereka dua tahun yang lalu. 

“Ri, aku minta maaf.” 

Kali ini Riska menatap Alfa dengan tatapan tajamnya. Dirinya henda melampar map di wajah pria itu ketika melihat raut wajah Alfa terlihat menjengkelkan baginya. “Kau mau menghindar? Hah! Ternyata kau sangat mengecut.” Tak ada balasan dari perlakuan Riska padanya. Alfa hanya diam dan menunduk, menahan nafasnya panjang dan berakhir dengan anggukkan lemas.
“Apa kau terpaksa melakukannya.”

“Tidak.” Jawab Alfa cepat.
“Lalu kenapa kau...?”
“Aku kenapa?” Balas Alfa membulatkan matanya kesal.
Dengusan terdengar di bibir Riska melihat rekasi Alfa yang masih sama seperti dua tahun yang lalu. Melipat tangannya di dada, menyilangkan kaki kanan yang berada di atas. Alfa semakin mengeluarakn emosinya melihat senyum mengejek dari wajah Riska. 

“Kau takut?”
“Tidak!” bentak Alfa.
“Kau takut Tuan, aku yakin itu.”
Alfa memejamkan matanya sejenak agar emosinya sedikit berangsur menurun. “Aku bilang tidak Nyonya.” Jawaban Alfa membuat Riska tersenyum kecu. Tidak bisa membendung rasa kesalnya pada Riska dengan terpaksa Alfa kembali mengambil kertas putih yang berisikan tulisan tangan dirinya dengan Riska. 

Terlihat rapi dan memusingkan bagi Alfa pribadi. Entah kenaa ingatannya kembali berputar pada kejadian dua tahun yang lalu. Meninggalkan Riska dengan keadaan yang kacau lalu kembali pada gadis itu membawa sebuah harapan palsu yang sangat menyiksa batinnya sendiri.

“Kau ragu Tuan?” Pertanyaan yang menyulut emosi lagi, batin Alfa menjerit.
“Tidak!” jawab Alfa tegas. 

Mengambil benda panjang berwarna hitam dan membuka tutupnya. Tinta hitam yang mengkilat di ujung benda itu terlihat mengerikan bagi pria itu. Menelan susah payah air liurnya ketika tinta itu mulai menggores kertas yang berada di hadapannya. Alfa berhenti sejenak. Memikirkan konsekuensi apa saja yang akan pria itu peroleh membuat Riska sabar untuk melanjutkan rencana keduanya.
“Kenapa kau diam Tuan?” Suara Riska bagaikan petir di malam yang pekat. Angin yang masuk berada seperti pusaran tornado bagi batinnya. Langit yang cerah ini tidak ingin menjadi saksi akan tingkah dua manusia yang tengah merencakan sesuatu untuk membunuh pejabat tetinggi. 

“Apa kau dendam padaku?” 

Riska tersenyum menanggapi pertanyaan mantan kekasihnya itu, “Tidak!” gadis itu meminum jus stoberi milknya, menatap pria itu tajam. “Aku tidak berhak dendam padamu Tuan.” Jawaban gadis itu seolah menusuk kerongkongan pria itu. 

“Lalu, apa kau membenciku?” Riska kembali menatap pria itu tajam. Memalingkan wajahnya tidak ingin pria itu melihat raut wajahnya yang sangat ketara membenci pria itu. “Kau membenciku?” ulang pria itu untuk memastikan jika Riska tidak membencinya. 

“Untuk apa aku membencimu Tuan.” Balas Riska merasa malas dengan sikap Alfa yang sangat menyebalkan baginya. Gadis itu menatap kertas yang masih kosong belum tersentuh oleh tinta hitam Alfa. “Kau harus mendatanganinya Tuan.”

Alfa menghembuskan nafasnya pasrah atas prilaku Riska padanya. Tentu tidak salah bagi Riska bersikap demikian karena Alfa dengan teganya menyakiti hati tulus gadis sepertinya. Tapi Tuhan berkehendak lain, jujur saja jika Alfa bisa memilih dirinya juga akan selalu bersama dengan gadis yang sangat ia cintai tapi sekali lagi takdir berkata lain, dia dan Riska tidak mungkin menjalin sebuah hubungan yang intim seperti dua tahun yang lalu. 

Tinta hitam menggores kertas itu dengan apiknya, senyum miris terlihat

Penulis Cerpen : WS

Valentine, Muslim Ada Apa Dengan Kalian?

Hari Valentine yang sering dirayakan pada tanggal 14 februari, banyak kalangan muda yang saling mengucapkan selamat hari valentine, selamat hari kasih sayang, tapi juga ada yang menolak tidak mengucapkan selamat hari valentine, karena saya muslim, dan itu haram bagi orang muslim.

Sebenarnya valentine itu merayakan hari kasih sayang, yang diperingati oleh orang barat, orang yang ada di Eropa, yang mayoritas non muslim, jadi bagi muslim sekarang, yang kebanyakan dedek-dedek gemez anti mengucapkan selamat hari valentine, dengan alasan saya muslim, dan haram mengucapkan itu.

Lantas cara kamu berpacaran itu budaya mana ya dek? Budaya muslim apa budaya barat? Mosok ciuman gandengan tangan ma pacar itu budaya Muslim, bahkan yang menolak valentine itu juga sudah pernah nganu (nganu itu yang kayak gitu dech), tapi tetap nggak menyadari bahwa itu bukan budaya muslim. Dedek-dedek sehat semuakan?

Bahkan banyak video viral yang berjilbab hiho hihe (mboh iki bahasa endi) di motor atau di dalam mobil, bisa-bisa hiho hihe di kost atau hotel, itu lebih parah dari pada kita yang merayakan valentine lho, terus ada juga foto-foto syur cewek jilbob (cewek jilbab yang memamerkan toketnya) di media-media sosial, itu juga lebih parah lhoo, dari kita yang merayakan valentine.

Aku itu prihatin pas ada dedek gemez bilang "saya muslim jadi saya tidak merayakan valentine" berarti valentine hanya sebatas budaya yang harus ditinggalkan karena haram, karena bukan budaya muslim.

Setelah maraknya sosial media, setelah banyaknya orang saling mengkafirkan di sosial media, dan setelah itulah banyak orang-orang yang saling menghujat satu sama lain, hanya karena beda dalam pandangan berfikir agama, bahwa yang tidak sama satu pemikiran adalah kafir, orang yang melenceng dari agama islam.

Suatu contoh, tentang peringatan hari valentine yang dulu pas aku masih smp, masih unyu-unyunya sech, belum ada kuk yang mengharamkan pengucapan selamat valentine, tapi kenapa sekarang ini marak dedek gemez yang anti mengucapkan valentine dengan alasan karena saya muslim, La opo muslim ra oleh? Yo emboh aku ra eroh Cuk, hahahahahaha.

Jadi gini ya wahai dedek-dedek gemez yang mulia, yang imut-imut, kalau tidak mau merayakan hari valentine mbok mendingan diam, nggak usah bilang kayak gitu, kesannya rasis tauk, lagian itu budaya barat to, belum tentu budaya nasrani atau yahudi? Kan kita juga nggak tau to.

Jadi yang saya resahkan kenapa kalian kuk bawa muslim untuk tidak merayakan valentine, ini mirip ketika kita mengucapkan selamat natal, mengucapkan natal itu sudah seperti mengimani Yesus atau lebih dikenal anak Bapa, mbok mikirnya yang dalam dikit, mengucapkan itukan sebuah penghormatan, bukan pengimanan. Ngunu lho, pahamkan

Jadi saranku lagi, jangan bawa-bawa agama untuk tidak ikut mengucapkan sesuatu, biarkan jangan mentang-mentang mayoritas kita seenak jidat kita mengatakan, mbok jadilah, muslim yang toleren, muslim yang saling menghormati Sesama umat Tuhan, kan lebih damai tidak saling bermusuhan.

Dan inti sari dari Valentine itu sendirikan merayakan hari kasih sayang, bukan hanya kasih sayang kepada pacar, orang yang kita sayangi saja, kepada orang tua, dan kepada semua makluk Tuhan yang ada di dunia, terus dimana salah kita mengucapkan atau merayakan valentine?

Merayakan hari kasih sayang itu dengan bisa dengan keluarga makan bareng, dengan pacar terus dikasih bunga dengan dengan suasana romantis, masak kayak gitu dosa? Yang dosa itu, merayakan valentine beli kondom terus ceck in ke hotel, itu baru dosa, kalau menurutmu gitu.

Menyikapi hari kasih sayang atau hari valentine, harus dengan akal yang sehat, kita ambil intinya memberi kasih sayang kepada seluruh makluk di dunia ini, jangan ambil budayanya, tapi ambillah intinya, surban itu budaya arab, yang dipakek Kanjeng Nabi, tapi surbanan yang bringasan itu juga bukan budaya Kanjeng Nabi, tapi musuh Kanjeng Nabi, Abu Jahal.

Jadi kesimpulnya, ambillah intinya dari hari valentine, bukan mengambil dari mana budaya valentine berasal, ok sudah pahamkah kalian wahai dedek gemez yang imut imut, heheheheheheheheh

Ari Kimura

TRANSLITE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : KIM

Pengikut

total

Visitor

free counters
Copyright © Catatan Ari Kimura. All rights reserved. Template by CB