Berguru Kepada Peradaban

Berbicara tentang peradaban, tentunya kita berbicara tentang
perputaran waktu. Sejauh manakah kita melek terhadap peradaban.
Sebelum kita berguru, mulanya kita tahu bagaimana rasanya melek kepada
satu tema ini yaitu peradaban. Setelah kita mencoba untuk melek
terhadap jejak jejak sejarah yang membawa sepasang kaki kita di sebuah
peradaban, barulah kita tahu pelajaran apakah yang akan kita reguk
bersama dari setiap suguhan peradaban.
"Setiap jengkal dari muka bumi ini adalah sejarah" pastinya menjadi
ungkapan yang sangat apik untuk dimuseumkan di ingatan. Rasulullah SAW
telah menggebrak dunia dengan peradaban yang diretasnya. Bahkan
menjadi kisah yang tak usai-usainya diceritakan masyarakat dunia.
Cerita yang tak bosan didengar murid dari seorang guru di bangku
sekolah. Riwayat yang tak habis dibahas oleh sejarawan muslim maupun
non muslim. Politik, ekonomi, sosialitas sang Nabi yang tak tergeser
dari referensi yang dijadikan rujukan bagi umat muslim seantero raya.
Begitu juga dengan sahabat-sahabat beliau yang selalu menarik untuk
didengarkan kisahnya. Pertanyaannya, sudahkah kita melek terhadap
peradaban beliau? Peradaban keemasan di bawah tahta Muhammad
habibullah SAW. Maka pantaslah ini menjadi PR pertama bagi kita untuk
terus mempelajari sirahnya. Penasaran bukan???
Dari peradaban Muhammad, kita melaju mundur sebentar ke peradaban
jahili bangsa Arab. Memutar waktu perputaran zaman. Peradaban unik
yang masih lezat di santap bagi para pecinta ilmu. Peradaban jahili
sendiri memiliki rentang waktu yang sangat panjang sebelum zaman
kerasulan Muhammad SAW. Memiliki karakteristik yang unik dan
bermacam-macam yang mungkin dapat kita baca di buku-buku sejarah
peradaban seperti Tarikh adab jahili, Mu'allaqot Sab', dan kitab-kitab
para tokoh sejarawan muslim kontemporer yaitu Dr. Toha Husein, seorang
Doctor yang menyelesaikan studinya S1 di Universitas Al-Azhar Cairo
dan menuntaskan S2 dan S3 di Sorbonne, Paris dan Dr. Muhammad Abbas
'Aqod. Karya-karya tokoh ini banyak memberikan sumbangan referensi
kepada dunia sejarah. Maka karna terlalu banyaknya ranum-ranum sejarah
peradaban yang disajikan untuk kita, maka di sini saya akan mengutip
kisah salah satu penyair jahili yang termasuk bagian Mu'allaqot Sab',
7 Penyair jahili yang syairnya di tempel di dinding ka'bah. Dan salah
satunya adalah Zuhair Ibn Abi Sulma yang bait-bait syairnya sangat
mempesona, diksinya yang menggoda para pecinta dunia sastra. Banyak
sekali yang bisa kita ambil dari kehidupan dan syair-syair Zuhair,
kisah cintanya yang romantis, Odenya yang menggelora untuk para
pejuang dan Mutiara hikmah yang uslubnya masih dipelajari hingga
sekarang.
"Perkataan seseorang itu bagian dari hatinya, maka jika ia tidak
menggunakan hatinya, tidaklah berharga hidupnya" salah satu bait syair
yang eksotis dari Zuhair Ibn Abi Sulma. Di sini saya akan mencoba
mengajak kita semua berpetualang dengan penyair nyentrik ini. Zuhair,
seorang yang membuat bait-bait syair pujian untuk dua orang pemuda
yang mencetuskan perdamaian pada zamannya. Ia menghiasi syairnya untuk
memuji kehebatan dua orang pemuda yang mampu mendamaikan perseteruan 2
suku, Bani Gobro' dengan Bani Dahis. Dikisahkan perseteruan ini sudah
ada sejak ia kecil, tak jarang mereka melakukan peperangan dahsyat,
pertumpahan darah dan sebagainya. Namun tiba-tiba perseteruan itu
sembuh dan mereka hidup dalam payung perdamaian. Yang membuat unik
cerita ini, dua orang pemuda yang bernama Harom dan Haris datang dan
menawarkan perdamaian antara kedua suku tersebut dengan sesuatu yang
tak lazim. Apakah itu? Harom dan Haris memberikan 1000 ekor unta
terbaik di zaman itu untuk kedua suku tersebut asalkan mereka mau
berdamai. Dikisahkan dua pemuda ini tertekan hidup dalam perseteruan
dua suka tetangga dan mencita-citakan perdamaian. Hingga lahirlah
idenya yang mencengangkan. Bani Gobro' dan Bani Dahis menyetujui
persyaratan kemudian mereka berdamai. Cerita selesai, lalu apa yang
unik? Lalu pelajaran apa yang dapat kita teguk?
Begitu indahnya sikap yang diambil seseorang ketika mereka hidup di
kalangan permusuhan, ia berani mengambil keputusan untuk berusaha
mendamaikan. Bayangkan, seribu unta mereka hargai untuk sebuah
perdamaian. Bila kita tarik ke peradaban modern, peradaban kita ini.
Adakah orang yang rela membayar harga perdamaian. Tak banyak dari kita
mengedepankan emosional dan ego masing-masing. Membela sana, membela
sini. Mencari yang benar, menuding yang salah. Bahkan kita sering
dengan lantang menjatuhkan mereka yang salah. dari kisah yang
diabadikan Zuhair Ibn Abi Sulma, dapat kita jadikan PR untuk diri kita
masing-masing bahwa perdamaian mendapatkan tempat di mata dan hati
kita, tidaklah mencari pihak yang benar kemudian menjatuhkan lainnya,
bila kita bisa merangkul keduanya alangkah syahdunya hidup bukan?
bukankah kita berada dalam satu naungan Islam? Dan Islam adalah agama
perdamaian. Ini beda kasus dengan musuh islam yang terus memerangi dan
menyeterui islam, mereka pantas untuk diperangi. Perdamaian yang
dimaksud adalah Representasi dari Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.
Peradaban yang dibawa Rasulullah SAW tak kurang mengajari kita untuk
berdamai dengan siapapun, sekalipun itu orang kafir yang hidup di
wilayah muslim. Indah bukan jika kita hidup menjadi lentera diantara
lilin-lilin yang menyala. Kita tetap bersinar dengan cahaya islam yang
tak meredupkan cahaya lain.
Tentunya kalian yang pernah membaca novelnya "99 Cahaya di Langit
Eropa" yang telah membumi dari penulis kenamaan Hanum Salsabiela Rais
dan suaminya Rangga Mahendra. Mengabadikan kisah kebaikan Aisye Pasha
dan Fatma Pasha yang tetap tersenyum lebar kepada kejahatan Bangsa
Eropa terhadap Turki, Negeri kelahirannya. Kejahatan Bangsa Romawi
kepada Turki sehingga menimbulkan ekspansi Kara Mustafa Pasha.
Saya rasa ini sudah menjadi petualangan yang seru dan pas untuk kita
saat ini. Mereguk nikmatnya anggur perdamaian dan keharmonisan hidup.
Tak pernah lelah menebar benih kebaikan diantara manusia. Apakah
disini saja peradaban memberi kita pelajaran? Tidak, masih banyak
warisan peradaban yang siap untuk dipetik ranumnya. Ia tak hanya
menyajikan kisah-kisah yang unik tapi juga menghadiahkan pelajaran
yang bisa kita lukiskan dalam peradaban kita saat ini. Selamat
berpetualang di putaran peradaban lainnya
Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat dan memberi energy positif
bagi penulis dan pembacanya. Tulisan ini ditulis tidak untuk menyindir
siapapun melainkan menyindir diri sendiri yang belum mampu
merepresentasikan diri sebagai muslim sejati. Maka lewat ini, mari
kita sama-sama belajar menjadi agen muslim yang menggetarkan peradaban
islam khususnya dan dunia. Terima kasih dan sampai jumpa di coretan
berikutnya.


Penulis:
Siti Qomariyah
(Mahasiswi Universitas Al-Azhar Cairo Mesir)

Dari Mesir Menyapa Tegalarum

Mutiara itu adalah…….
(Sebuah kisah yang dibawa dari Bumi Pertiwi menuju Bumi Nabi)

Semua orang pasti memiliki cita-cita dan harapan dalam hidupnya.
Harapan untuk sukses dalam hidupnya, harapan untuk membahagiakan orang
tuanya, harapan untuk masa depannya dan sebagainya.
Begitupun dengan diriku. Memiliki cita-cita yang mungkin terlalu besar
untuk pemimpinya. Tapi apakah kita tidak boleh bercita-cita layaknya
orang besar di sekitar kita? Apakah kita tidak boleh bermimpi layaknya
kita sedang tertidur nyenyak? Bebas semau mimpi kita, tanpa kita
berharap datangnya mimpi tersebut, yaa seperti itu lah mimpi. Bukankah
begitu bagi anda sebuah mimpi dan cita-cita?
Saya berbagi kisah ini untuk saudara-saudaraku tercinta, untuk para
pemimpi yang tak takut bangun dari tidurnya untuk mem pause mimpinya
dan kemudian bangun lalu mewujudkannya, untuk mereka yang tidak takut
jatuh membangun istana di kecuraman kejamnya dunia, dan untuk mereka
yang percaya bahwa Allah Swt benar-benar merengkuh setiap harapan
bermilyar-milyar hambaNya. Dari sinilah cerita dimulai.
Namaku Siti Qomariyah, aku terlahir di Desa tercinta anggun nan asri,
Tegalarum. Desa yang selalu kurindukan dikala aku berada jauh darinya.
Lahir di antara orang-orang tercinta yang tak henti menghujaniku kasih
sayang. memiliki ayah dan ibu yang berpenghasilan biasa layaknya
penduduk di Desa, tapi jangan salah, mereka adalah orang-orang besar
yang telah membesarkanku dengan sejuta cinta dan cita-cita.
Mesir? Universitas Al-Azhar? Siapa sih yang ga kenal dengan nama ini.
Nama yang mulai masyhur di telinga masyarakat semenjak meledaknya film
layar lebar Ayat Ayat Cinta dan KCB Ketika Cinta Bertasbih. Siapa yang
ga kenal dengan tokoh Fahri dan Aisyah? Film yang lagi
hangat-hangatnya ketika aku masih kelas 3 Tsanawiyah. Siapa yang
sangka kini aku berada di Bumi Kinanah ini tempat Fahri dan Aisyah
bertemu. sebenarnya aku berkeinginan untuk belajar di mesir ini bukan
karena film ini. Lebih karena dulu usthadzah di pondok sering
bercerita tentang kawan-kawannya yang melanjutkan studi ke Universitas
Al-Azhar Mesir, dan seperti itulah mimpi itu datang dan dimulai.
Mimpi itu datang ketika aku tengah duduk di kelas 1 Aliyah. Semenjak
itu aku senang sekali bercerita tentang Mesir. Layaknya para pemimpi,
aku terlalu menikmati mimpi ini hingga aku lupa siapa diriku? Aku
hanyalah anak petani yang bekerja serabutan. Aku bukan Neng, aku bukan
anak pak kyai, aku juga bukan anak orang kaya. Sekali lagi aku
bukanlah siapa-siapa. Aku seperti kalian layaknya anak desa yang
sekolah di Pondok Pesantren Al-Abror, Pesantren yang teramat baru di
desa ini. Pesantren yang tak banyak dikenal khalayak. Namun dari
sinilah kisah ku dimulai.
Yang aku tahu untuk bisa sekolah di Universitas Al-Azhar haruslah
hafal Al-Quran dan mendapatkan beasiswa disana, karena polosnya diriku
saat itu, aku tak pernah berfikir bagaimana orang tuaku mampu
membiayaiku sekolah di Luar Negeri. Aku hanya berfikir bagaimana
caranya bisa sekolah disana dengan mengandalkan beasiswa. Maka
mulailah diriku menghafal Al-Qur'an, meski dengan niatan agar bisa
lulus test Depag untuk bisa kuliah di Universitas Al-Azhar. Satu tahun
aku bisa menghafal 2 juz sembari memperdalam bahasa Arab ku dengan
modal Nahwu Shorof yang masih dasar. Dalam hati kecilku, sebenarnya
minder. Bagaimana ga minder? Pesantrenku masih kecil, aku pun adalah
lulusan yang ke 2, dan aku belum memiliki bekal ilmu yang cukup, belum
pernah belajar kitab apapun seperti yang digunakan pesantren yang
sudah besar. Harapanku mulai timbul tenggelam. Hingga tibalah aku
lulus dari pesantren pada tahun 2012. Kami belum diizinkan untuk
kuliah karena harus mengabdi setahun. Akhirnya aku bertekad tahun 2013
harus bisa lulus test kuliah di Al-Azhar. Semakin kuat dan kuat tekad
ini. Di sela-sela pengabdianku di Al-Abror aku mulai belajar dan
menambah wawasan pengetahuanku seputar test Al-Azhar. Tak lelah
berdo'a pada Pemilik Alam, berdo'a dan terus berusaha.
Dengan berbekal ridho orang tua, saudara dan teman-teman semua aku
mendaftar test pada bulan Juni. Setelah beberapa hari mengurus
pendaftaran aku mempersiapkan diri untuk test lisan dan test tulis.
Namun apakah setiap mimpi berjalan lurus begitu saja? Apakah tiada
batu kerikil yang sengaja dilempar ke kakiku? Tidak…ada sebagian orang
yang mengatakan aku tidak tahu diri. "Punya cita-cita itu mbok ya yang
sesuai dengan kemampuan orang tua", "Orang tua nya petani saja kok
punya cita-cita sekolah di luar negeri" dan sebagainya…..namun ibu tak
pernah lelah memberi motivasi untuk terus maju melangkah. Beliau
meyakinkanku bisa membiayai cita-citaku. Meski saat itu aku tahu, aku
pun juga sadar kalau aku akan sangat membebani beliau. Namun namanya
orang tua, tak ingin melihat harapan anaknya hancur, malaikat yang tak
pernah dikisahkan namun selalu ada dalam cerita anak manusia itulah
orang tua. aku mulai resah, gelisah, takut antara melanjutkan
perjalanan meraih mimpiku atau berhenti. Namun yang namanya Siti,
memiliki watak yang keras, kemauan yang keras. Akhirnya aku teguh
meneruskan mimpi ini. Hingga tibalah kabar itu, petir yang menyambar
dikala pelangi ingin muncul, kabar yang menghancurkan hatiku. Siapa
sangka tahun 2013 Pemerintah membatalkan seleksi mahasiswa ke Mesir
dikarenakan keamanan disana yang masih labil. Aku menangis
sejadi-jadinya, rapuh, putus asa. Mimpi yang selama ini kubangun, ah
bagaikan layang-layang yang putus dari benangnya. Aku tak punya
bayangan apapun yang ada hanya rasa kecewa luar biasa.
Ibu dan bapak yang tak tega melihat anaknya hancur dan jatuh. Hingga
membuat mereka ikut meneteskan air mata. Aku merasa tidak adil dengan
usaha yang kulakukan. Kenapa harus terjadi padaku? Kenapa harus aku?
Aku merasa sudah belajar sungguh-sungguh, sudah menghafal kalam Ilahi,
sudah sempurna, tapi……. Hancur semua.
Pada saat itu, aku tidak berkeinginan melanjutkan kuliah dimanapun,
aku belum bisa move on dari Universitas Al-Azhar. Sedang pendaftaran
di Universitas-universitas dalam negeri sudah ditutup. Teman-temanku
yang melanjutkan kuliah di tahun itu, sudah mulai mendaftar dan
rata-rata sudah di terima di universitas pilihan mereka, sedang aku
masih lurus melihat mimpiku, Mesir.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menata diri. Orang tua terus dan
terus membangkitkanku, guru-guru begitu juga kawan-kawanku mulai
membangun kepercayaan diriku kembali. Ibu selalu mengatakan kepadaku
"Nak, kalau Mesir adalah jodoh kamu, kamu pasti bisa kesana, entah
kapan, sabar nak". Kalimat ini seolah memberiku kekuatan untuk
berjalan ke depan. Akhirnya aku menunda kuliah di tahun ini. Aku
mengabdi kembali di pesantren, aku mulai instropeksi diri, mulai
mencari kesalahanku kemarin. Aku mulai meluruskan niat untuk belajar
hanya karena Allah, apalagi menghafal Al-Qur'an, kalam indah nan suci
itu dihafal hanya untuk niat yang suci, niat mengharap ridho Allah
saja, tidak untuk yang lain. Menambah wawasan dengan menulis dan
membaca segala bentuk pengetahuan. Aku sudah mulai mengikhlaskan
Mesir. Aku selalu ingat kata Guruku di Pesantren " Apa yang kita
ikhlaskan, maka Allah akan beri kita yang berlipat indahnya dari yang
kita ikhlaskan itu".
Di akhir tahun 2014, mulailah aku berfikir untuk melanjutkan kuliah.
Entahlah, saat aku mulai melupakan Universitas impian itu, Mesir
terasa lebih dekat. Akhirnya aku mencoba kembali mengikuti test di
tahun 2014, karena memang aku belum pernah mencoba. Setidaknya aku
sudah mencoba, gagal ataupun lulus aku terima dengan hati yang lebih
tulus, karena kalimat ibu tak pernah salah. Aku percaya itu.
Bila tahun kemarin semua tahu kalau aku akan melanjutkan ke
Universitas Al-Azhar, kali ini aku menutupinya. Menyembunyikan dari
orang-orang di sekitarku. aku ingin hanya orang tua saja yang tahu.
Belajar dari kegagalan tahun kemarin, agar bila aku jatuh kembali, aku
tak merasakan sakitnya kecewa. Proses pendaftaran hingga Test berjalan
lancar, tinggal menunggu pengumuman. Dan akhirnya….
Alhamdulillah wa syukurillah, aku lulus. Mimpiku terwujud, pelangiku
kembali melengkung, layang-layangku kembali terbang di langit. Aku
menangis haru, sujud tiada berhenti. Begitu juga dengan ibu bapakku.
Mereka tak henti-hentinya menangis bahagia. Terima kasih bu untuk
kalimatnya. Aku benar-benar jodoh dengan Mesir.
Karena do'a ibu bapak, guru-guru, sahabat-sahabat, saudara, tetangga
semuanya kini aku tengah kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir
Fakultas Bahasa Arab tingkat 2. Terima kasih malaikat-malaikat yang
tak berkisah, kisah kalian ada di bagian cerita hidupku.
"Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar
(Al-Baqarah : 153)"
Semoga kisah ini bermanfaat dan menginspirasi. Jangan pernah lelah
belajar dan belajar, berdoa dan berdoa. Allah punya cara sendiri
mengabulkan permohonan hambaNya. Bila di titik ini Dia menjatuhkan
kita, percayalah di titik berikutnya Dia menaikkan kita, begitu
seterusnya.
Eits…. Satu lagi, sudah biasa orang yang sukses dari tempat yang
memang mendukungnya sukses namun yang luar biasa adalah orang sukses
dari tempat yang kecil,. Sudah biasa orang kaya sukses tapi yang
sukses itu tukang bubur pasti lain ceritanya. Semangat untuk
adek-adekku yang kini tengah merajut cita-citanya.
Jangan bosan menjadi hambaNya yang tulus, meluruskan niat setiap
langkah, karena cintaNya Maha Dahsyat dari harapan kita. Semoga kita
selalu menjadi hambaNya yang tulus dan tulus karena hujan tak pernah
memilih turun di tanah negeri tertentu. Terima kasih…..

Sumber: http://tegalarum.magetan-desa.info

Penulis :
Siti Qomariyah
(Mahasiswi Universitas Al-Azhar Cairo Mesir)

Maafkan Aku Yang Masih Mencintaimu

Mungkin pahit rasanya jika mengenang perjalan yang pernah kita lewati
dulu, tapi perjalanan itu tak pernah terhapus dari memoryku. Mungkin
hampir 3 tahun kita berpisah, tapi apa daya aku yang selalu
tergelincir pada kenangan itu. Kenapa harus seperti ini terlalu
cintakah aku padamu, terlalu sayangkah aku padamu, tapi apakah kau
seperti itu? Mungkin tidak. Hmm, sudahlah.

Kenangan itu nyata, sampai-sampai aku takut dengar nama kota Surabaya
dan Jember, seperti fobia kalau denger 2 kota itu, kenapa? Karena di
kota itu tersimpan sejuta kenangan bersamamu, bagaimana aku bisa ke
kota itu, kalau hatiku terasa teriris, tapi mau gimana juga semua itu
kenangan, kenangan adalah motivasi lebih baik, tapi nyatanya aku
terpuruk dalam kenangan. Ini seperti kata-kata "Jomblo itu pilihan,
mati itu takdir". Alibi seorang jomblo yang tak pernah bisa move on
dari masalalu. Ah Jancuuuuk tenan.

aku slalu mencoba untuk mencari penganti posisimu dihatiku, tapi semua
itu gagal, tak pernah diterima oleh hatiku, hatiku tak munafik, lhoo
kuk iso, la wong aku aku bilang punya pacar, tapi ngtwit slalu galau
sama mantan. Hmmm. Maafkan aku yang pernah ngisi hatiku, hmm
sebenarnya kamu hampir bisa membuatku terpuruk dari masa lalu, tapi
aku agak ragu dengan sikapmu, banyak yang tak klop antara A dan B,
makanya aku kembali mengalaukan mantan, hehehehehe sejenis Jancuk lagi
ini.

Aku sebenarnya capek denger nasehat temen-temen "ayo move on ojo
mantan ae seng di pikir" dalam hati aku berkata " move on diasmuu wie,
ngomong penak ngelakoni angel cuk". Memang hidup itu penuh liku-liku
apalagi cinta, Hmm mungkin lebih jancuk'i dibandingkan liku-liku dalam
hidup. Aku slaluu inget kata² "Cinta itu membangkitkan tapi membunuh"
dan disini saya baru sadar kehidupan di dunia itu emang paradoks, tapi
mau gimana lagi ini sudah resikoku tergelincir masalalu, tapi faidah
tersebesarnya aku banyak belajar dari ke galauanku sendiri.

Ketika aku galau apa yang ada dalam pikiranku, mantan mantan dan
mantan, ketika itu aku dikenal dengan nama Tuhan, ya Tuhan yang slalu
di sembah oleh orang-orang. mungkin kalau cerita masalah ini
timbulnya tak masuk akal. Jelaslah ini bukan bab syariat yang kita
pelajari sehari-hari kuk. Kadang aku galau, Tuhanku hanya dalam
sangkaan nama Allah. STOP !!! Terlalu irasionalitas. Kembalikan ke
tema lagi ahh.

Mungkin ketika aku merindukan mantan, ketika itu juga aku belajar
merindukan Tuhan, kadang aku berfikir mantankulah wajah Tuhan, wajah
yang slalu membuatku tak pernah lupa, seperti aku yang tak pernah lupa
dengan Tuhanku. Tapi biarkan saja yang seperti ini, jangan pernah ada
selainku yang mengalami fase seperti ini. Mungkin juga tak ada, bagi
orang² cinta ya cinta setelah putus ya tak ada lagi. Sedangkan aku
sudah ungkapkan bahwa cinta itu paradoks. Bukan hanya cinta saja yang
paradoks, bahwa hidup itu juga paradoks kuk. Seng ra percoyo yo
karepmu !!!.

Aku kadang heran, kenapa aku harus mencintaimu, sedangkan kamu saja
tak pernah mengingatku. Terlalu bodohnya aku. Hmm apakah ini yang
dinamakan cinta. Ehh, sebelumnya aku juga mau ucapkan terima kasih,
buat mbak2 yang pernah mengisi hatiku, yang pernah bersinggah dalam
perasaanku, maafkan aku jika aku tak bisa seperti yang kalian
harapkan, jujur saja selama ini masih ada huruf N yang susah pergi
dari hatiku. Anggap saja perjalanan cinta itu sebagai drama. Bukankah
cinta yang kita jalani itu drama, yang seperti drama korea.
Hahahahahahaah

Jujur walapun sebenarnya aku masih mencintainya tapi apa daya aku,
yang tak bisa apa-apa. Biarkan cinta itu menjadi kenangan, biarkan
cinta ini aku yang merasakan, aku hanya ingin ucapkan selamat buat
kamu yang ada di negeri sakura. Jaga diri baik-baik. Semoga langgeng
dengan pacarmu.

TRANSLITE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : KIM

Pengikut

total

Visitor

free counters
Copyright © Catatan Ari Kimura. All rights reserved. Template by CB