Cinta Dalam Ketiadaan

Betapa tak'akan sedih aku, bagi malam, tanpa hariNya Serta keindahan
wajah hari terang-Nya?
Rasa pahit-Nya terasa manis bagi jiwaku: semoga hatiku menjadi korban
Kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena cinta demi kebahagian Rajaku yang tiada
bandingNya.
Titik air mata bagi Dia adalah mutiara, meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun sebenarnya aku tidak mengeluh: aku
cuma berkisah.
Hatiku bilang tersiksa oleh-Nya, dan kutertawakan seluruh dalihNya.
Perlakukanlah aku dengan benar, O Yang Maha Benar, O Engkaulah Mimbar
Agung, dan akulah mimbar pintu-Mu!
Dimanakah sang Kekasih, dimanakah "kia"dan"aku", O Engkaulah hakekat
ruh lelaki dan wanita.
Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, Engkau-lah yang satu itu.
Engkau ciptakan "kita"dan"aku" supaya memainkan puji-pujian bersama diri-Mu
Hingga seluruh "aku"dan"engkau" bisa menjadi satu jiwa serta akhirnya
lebur dalam sang Kekasih

Puisi: Jalaludin Rumi. MasI, 1776

Hai Kamu

Hai kamu, kau slalu ada, tapi tak pernah mengangap aku

Hai kamu, kau slalu aku pikirkan, tau kau tak pernah memikirkan

Hai kamu, aku slalu terbayang wajahmu, tapi kau tak pernah mau lihat

Hai kamu, aku rindu sangat dalam, tapi kau slalu tak pernah merindukan

Hai kamu, ingatkah janji kita bersama, tapi kau tak pernah menghiraukan semua

Hai kamu, aku menatap bulan purnama dengan kenangan, kau tak pernah mengenang
Hai kamu, ingatkah saat kita bercengkrama dengan malam, tapi kamu tak
pernah memandang penuh kasih sayang

Hai kamu, aku slalu merindukan kasihmu, walau pun kau tak pernah mau mengenang

Penulis: Ari Kimura

TRANSLITE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : KIM

Pengikut

total

Visitor

free counters
Copyright © Catatan Ari Kimura. All rights reserved. Template by CB