Catatan Ari Kimura

Catatan Ari Kimura

Siapakah Namamu

Hmm sepertinya aku menemukan sesuatu diperjalananku

Entah apa yang kulihat 

Ketika bertemu denganmu

Kucoba kucuri - curi pandang padamu

Walau aku harus malu ketika kau tau

Entah apa yang kurasakan ,

Ketika bisa memandanngmu

Hati ini merasa berdebar

Ingin rasanya menyapamu, menjabat tanganmu

Dan ingin aku bertanya

Siapa namamu?

Tapi apalah aku,

Nyali ciut yang tak berani menyapamu

Ketika kau tenggok ke arahku,

Rasanya jiwa ini menyatu denganmu

Jilbab biru, paras manis berjas hijau,

Siapakah namamu?

Bolehkah aku melihatmu kembali.

Menuju Jalan Keabadian

 Dibalik senyum dan ketawamu

Kau menyimpan beban berat

Seakan kau merasa sehat

Tapi semua hanya sebuah isyarat


Kudengar kabarmu setelah sekian lama

Membuat semua kawanmu tercenggang

Ternyata kau memilih jalan pulang

Jalan dimana Kau menikah dengan keabadian


Ari Kimura

Kado tiga puluh tahun

Sudah tiga puluh tahun usiamu
Hari ini, kau rayakan penuh kebahagiaan
Usia yang lebih dari seperempat abad
Bagaimana kabarmu? Masih ingatkah dengan aku?I

Aku pun tak meminta kau ingat aku
Aku tahu, kau sudah lupa tentang semuanya
Apalagi tentang kopi saroja pagi itu
Jika kau ingat tentang itu
Ingin rasanya kuteguk pahit manisnya kopi saroja
Bukan untuk mengobati rasa maafku padamu
Aku tahu, kalau kau tak pernah memaafkan aku
Biarkan semua menjadi kenangan dalam hidupku
Aku bersyukur pada Tuhan
Tepat hari ini aku masih diingatkan tentangmu
Mungkin mustahil bagimu jika mengingatku

Izinkan aku memberi sepenggal doa untukmu
Tuhan berikan dia kesehatan, keselamatan dan momongan.
Aku hanya bisa meminta kepadaMu, hanya kepadaMu Tuhan.

By; Ari Kimura

Aku Dan Ke-aku-an

Awal mulanya aku tak pernah tau tentang Aku yang sesungguhnya, awal mulanya aku adalah diriku sendiri, tapi ketika aku belajar memahami tentang Aku yang dipaparkan oleh Habib Ismail Fajri Alatas, salah satu murid Habib Muhammad Lutfie bin Yahya Pekalongan, salah satunya ketika beliau menceritakan tentang seorang Zahid yang beribadah selama hidupnya untuk Tuhan.

“sang Zahid kembali ke rumahnya. Dia melihat pintu rumahnya tertutup dan dipikir salah satu muridnya telah tiba, Sang Zahid pun mengetuk pintu rumahnya. Di dalam Iblis bertanya,
“siapa yang mengetuk?” Sang Zahid menjawab Aku,  Mendengar jawaban Sang Zahid, Iblis menangis.  Ia bertanya lg. “siapa yang mengetuk?” Sang Zahid menjawab kembali, Panasnya api perpisahan semakin membakar Iblis. Dibukanya pintu dan ditatapnya wajah sang zahid yg dibasahi tetesan air wudlu. Dengarlah kata2ku, ujar Iblis. Jangan pernah ucapkan kata Akuu jika engkau tak ingin menjadi seperti diriku, Aku telah hidup berzuhud melebihimu, Engkau berzuhud 60 thn, aku telah berzuhud dan mendekat pada-Nya selama 700.000 tahun. Dan suatu ketika aku berkata Aku seperti yg tadi kau ucapkan. Dan kini lihatlah apa yg terjadi padaku!, Jangan sekali-kali ucapkan Aku , jika engkau tak ingin senasib denganku.
Iblis pun pergi dari hadapan sang zahid. Pergi membawa penyesalan mendalam akibat perpisahan dengan-Nya”

Pemahaman tentang Aku, Aku adalah dia Sang Khalik, bukan aku adalah diriku yang diciptakan di dunia ini, isi pesan pertemuan iblis dengan sang zuhud adalah, penyesalan iblis ketika mendengarkan sang zuhud mengucapkan kata “Aku”. Iblis yang berzuhud selama 700.000 tahun saja dilaknat Allah ketika dia mengatakan Aku, secara esensi Aku adalah Tuhan Sang Pencipta, kerena ke-Aku-an sang iblis maka Allah melaknatnya, Aku adalah Tuhan dan Ke-aku-an bagi kita jika kita mengatakan Aku pada diri sendiri.

Cerita tentang Aku yang diceritakan oleh Habib Ismail Fajrie Alatas masih banyak, cuma saya ambil satu cerita saja, untuk cerita aku lebih detailnya bisa di lihat di postingan tentang Aku yang lebih komplit.

aku adalah dosa terbesar para pecinta. Ketika ada aku maka engkau telah ikrarkan perpisahan.
Semoga saja amal, perbuatan, dan ibadah kita tidak justru meguatkan
ke-aku-an kita, Jangan sampai ibadah kita justru menjadikan kita sombong, merasa paling benar
dan paling suci dibanding orang lain. Jika mau tanding ibadah, tidak ada yang bisa tandingi Iblis. Tp akhirnya dia sengsara hanya karena merasa sok suci dan sok mulia. Semoga Tuhan melidungi kita dari sifat ananiyyah, sok mulia, sok relijius, sok suci, merasa lebih, dan lain sebagainya. Aku
Cukuplah Iblis, Firaun, Qarun, dan Nabi Yusuf sebagai panduan dan
pelajaran bagi kita. Wallahu a’lam

Kado Untuk Tuhan DiHari Ulang Tahun

Hari hari yang ditunggu selama setahun sekali
Bagi para manusia yang memuja dunia
Yang lupa seharusnya hari itu sebagai hari dimana berkurangnya usia
Bukan tentang kado apa yang diberikan pada kita
Tapi rasa bersyukur pada Tuhanlah yang paling utama
Hari ini aku bersyukur padamu, masih menyisipkan nafas pada jasadku
Lebih dari seperempat abad egkau sisipkan nafas pada jasadku
Tapi aku jarang mensyukuri yang kau berikan padaku
Aku tak meminta sesuatu padamu, seharusnya aku yang memberikan kado indah padamu
Cukupkah rasa syukur dan cintaku padamu
Aku belum bisa zuhud seperti umatmu
Yang diam dan berdzikir dihadapanmu
Ohh Tuhan aku merasa kecewa seperempat abad lebih aku belum bisa seperti mereka

Belajar Diam

Diam, diam bukan berarti bisu, diam bukan berarti bodoh dan diam bukan berarti tidak paham, diam adalah cara jitu kita bisa memahami hal yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata, aku diam bukan berarti tak cemburu, tapi aku diam untuk menutupi amarahmu.

Kalau kita berbicara tentang diam maka ada banyak versinya, kali ini saya akan membahas diam untuk menghargai perasaan orang lain. kuk perasaan bukannya lebih bagus kita itu blak-blakan untuk berkata tanpa harus tedeng aling-aling? emang lebih bagus seperti tapi ada cara lain untuk lebih baik dibandingan sepreti itu.

Kenapa saya memilih untuk mengargai perasaan orang lain, karena menusuk hati orang lain dengan perkataan itu sakitnya tidak seperti tangan kita terkena pisau atau kita kesandung batu, yang akan sembuh ketika luka itu kering, walapun membekas tapi kita tidak akan membenci dan membuat sakit hati, terkadang jujur berkata juga sama akan menjadikan perasaan orang lain sakit.

Banyak orang-orang yang memilih diam untuk menjaga perasan orang lain, salah satunya saya ketika saya melilih diam bukan berarti saya tak peduli tapi itu;ah caraku menjaga perasaanmu, ketika saya harus marah-marah untuk mengungkapkan amarahku memgkupkan  kecemburuan hanya membuatmu bukan luluh padaku, tapi membuatmu semakin membenciku.

Ketika diamku kau anggap  nggak pernah meresponmu, itu sebagian caraku untuk mengetestmu, mengajarimu bagaimana rasanya ketika kamu tak pernah direspon, bukan diam ku jadikan alasan untuk ajang balas dendam, tapi itulah caraku mengjarimu bahwa tak direspon itu sakit rasanya.

Ketika aku merindukanmu aku memilih jalan diam untuk menjumpaimu, bukan aku menemukan jasadmu ketika dalam diamku, tapi aku temukan percikan-percikan kerinduan itu, diam dan berinteraksi bersama Tuhanlah caraku menjumpai rindumu, bahkan kamu tak pernah sampai berfikir sedalam ini, dan pikiran pun tak pernah bisa sampai melogikakan apa mungkin diam bisa mengobati rasa rindu, sungguh sangat irasional tak bisa sampai kita berlogika seperti ini.

Dan cara orang salik diam adalah cara berinteraksi bersama Tuhan lewat wirid-wirid lewat amalan yang telah didapatnya, mereka diam, tapi hati bertegar mengucap namaMu, diamnya mulut tapi hati berinteraksi bersama Tuhan.

Versi diam yang nggak pernah mau tau, nggak pernah peduli adalah diamnya orang bodoh. mereka diam tapi mereka sebenarny nggak tau apa-apa, mereka diam untuk menutupi kebodohan yang haqiq, bukan diam orang menjaga perasaan orang lain.

Belajarlah diam dengan perasaan, bukan diam sebagai kebodohan, belajar memahami sifat orang lain dengan cara diammu,

Kisah Asmara Rama Shinta dan Rahwana

Pasti kita pernah melihat cerita wewayang dalam kisah Ramayana, cerita cinta segitiga antara Rama, Shinta, dan Rahwana.

Shinta adalah salah satu putri Prabu Janaka dari negeri  Mantili, Shinta titisan Bahtari Sri Widowati. dia angun nan cantik, siapa sech yang nggak akan terpincut paras cantiknya Dewi Shinta, seandainya aku hidup dicerita Ramayana, mungkin aku juga akan terpincut oleh kecantikan seorang putri raja yang bernama Dewi Shinta.

Mengenal siapa sejatinya Rama atau Ramayana. Ramayana adalah salah satu putra Prabu Dasarata dari negeri Ayodya, putra tunggal Prabu Dasarata dan salah satu titisan Dewa Wisnu yang bertugas menciptakan ketentraman di dunia.

Rahwana adalah putra dari Kaikesi seorang putri raja Detya yang bernama Sumali. Rahwana lahir setengah brahmana atau setengah raksasa. Rahwana lahir dengan nama Dasamuka, yang konon memiliki sepuluh kepala.

Ketika Rama mendengar ada sayembara merebutkan putri mahkota negeri Mantili sontak Rama ikut sayembara itu, siapa yang nggak akan meleleh ketika melihat Dewi Shinta, yang cantik nan aggun itu. Akhirnya Rama bisa memenangkan sayembara membengkokan busur siwa, dan raja Janaka memutuskan Rama menjadi menantunya.

Rama sempat diasingkan di hutan dadakan, ketika itu rama ditemani oleh sang istri Dewi Shinta dan Sang adik Lasmana. Saat dipengasingan Rama dan Lesmana didatangi seorang rakshasi yang bernama  Suparnaka, yang menjelma menjadi wanita cantik mengoda Rama dan Lasmana.

Singkat cerita Suparnaka terluka dan melaporkan kejadian itu kepada kakaknya Kara, Kara marah terhadap Rama yang telah melukai adiknya dan hendak membalas dendam. Dengan angkatan perang yang luar biasa, Kara dan sekutunya menggempur Rama, namun mereka semua gugur. Akhirnya Surpanaka melaporkan keluhannya kepada Rahwana di Kerajaan Alengka. Rahwana marah dan hendak membalas perbuatan Rama. Ia mengajak patihnya yang bernama Marica untuk melaksanakan rencana liciknya.

Pada suatu hari Shinta melihat seekor kijang yang lucu melompat lompat di sekitar pondoknya, akhirnya Rama mengejar kijang itu untuk diserahkan kepada sang istri, namun bukan gagal Rama membawa kijang itu, kijang itu ternyata jelmaan marica yang diperintahkan Rahwana, yang akhirnya Rama menghabisi marica.

Ketika Rama lama nggak balik balik ke pondok, Dewi Shinta pun merasa gelisah, akhirnya Lasmana menyusul Rama ketengah hutan dadakan, sebelum berangkat Lasmana membuat lingkaran disekitar pondoknya untuk melindungi Shinta dari orang2 jahat yang akan menculiknya.

Ketika Rahwana mencoba masuk diarea lingkaran yang dibuat oleh Lasmana, Rahwana terpental, Rahwana pun tidak kekurangan akal, akhirnya Rahwana menjelma menjadi Brahmana untuk melabuhi Shinta, akhirnya sintha keluar dari lingkaran itu untuk memberikan air ke Rahwana yang menjelma Brahmana, dan ketika itu Shinta akhirnya diculik oleh Rahwana.

Rama dan Lasmana kembali ke pondok dan melihat Shinta telah tiada di pondok. Perasaan Rama pun terguncang, Rama dan Lasmana menyusuri hutan dadakan dan gunung gunung, ketika itu pula rama menemukan burung raksasa yang sedang sekarat, Rama mengenal burung itu dia adalah Jatayu sahabat Raja Dasarata.

Dalam perjalanan mencari dewi sinta Rama dan Lasmana bertemu seekor kera yang bernama Hanamon, Hanoman lah yang mengantarkan Rama dan Lasmana bertem r UIaja kera Sugriwa. Rama dan sugriwa bercerita panjang lebar dan akhirnya menemukan point2 penting, Rama dan Sugriwa menyepakati perjanjian Sugriwa akan membantu Rama mencari Shinta dan Rama akan membantu Sugriwa merebut kerajaan Kiskenda dari Subali.

Akhirnya Rama memerintahkan Hanoman untuk menuju Alengka, mencari Shinta yang diculik oleh Rahwana, Hanoman menemukan Shinta yang disekap di taman Asoka letaknya didalam istana Alengka.

Pada penafsiran penulis mungkin beda sama cerita aslinya yang ada dalam wayang atau film Ramayana, sosok Raksasa yang bernama Rahwana yang menculik Dewi Shinta, saya kira bukan hanya karena sakit hatinya karena Rama melukai adiknya Suparnaka, tapi karena melihat kecantikan Dewi Shinta yang akhirnya Rahwana pun jatuh cinta kepadanya.

Apakah Shinta juga mempunyai perasaan kepada Rahwana? Hmm, mungkin iya walapun Shinta juga mencintai Rama, karena kita tidak akan tahu perasaan perempuan, apalagi melihat sosok yang gagah, walapun yang mempunyai hostori buruk, mungkin Rahwana tidak harus menjelaskan kejelekan dirinya, karena dasamuka adalah cermin kejelekan sifat manusia, tidak seperti orang orang yang membeberkan kejelekannya kepada wanita yang dia cintai, biar dia merasa simpati dengannya.

Rama pun merasa cemburu dan beranggapan bahwa Shinta sudah tidak suci lagi, ketika Rahwana menculiknya, walapun sejati Rahwana bisa berbuat jelek kepada Shinta, tapi Rahwana tetap tahu bahwa Shinta adalah istri Rama, walapun Rahwana memaksa Shinta untuk menjadi istrinya di negeri Alangka, Shinta pun menolak, tapi karena kegagahan Rahwana yang bisa membuatnya takjub,  adakah yang berani menculik istri dari Rama atau Ramawijaya titisan dewa Wisnu. mungkin tidak ada laki laki yang setangguh Rahwana rela merebut istri Rama, dengan strategi yang handal.

Rama pun tidak perlu tanya langsung ke Shinta, kalau mempunyai perasaan pada Rahwana, istilah wong jowo Rama itu itu Tahu sebelum Shinta mengakuinya. Puing puing cinta itu datang ketika Shinta merindukan sang suami yang tak pernah datang ke alengka untuk menolongnya, dan situlah sosok Rahwana yang dlu bajingan sombong dan jagoan menjadi orang baik dan menghibur sang Dewi Shinta.

Bukan salah Shinta kalau akhirnya mempunyai perasaan pada Rahwana, tapi kesalahan Rama yang membiarkan Shinta selama 3tahun ada di Alangka, tapi Rama tak kunjung menjemputnya, walapun akhirnya mereka kembali berdua, mungkin raga Shinta untuk Rama tapi hati Shinta Terbagi dua.

Shinta
"haruskah aku jujur pada, kekasih, kalau sukmaku tak seluruhnya tulus padamu, ada dia dalam hatiku"

Haruskah Kita Menjauhi Penguna Narkoba

Haruskah Kita Menjauhi Penguna Narkoba


Dua tahun silam, ketika saya diberangkat KNPI Magetan diacara JPID Jatim 2015 bersama perwakilan PPMI se-Jatim di Yonkav Tang 08 Beji Pasuruan, dalam sesi seresehan di Aula Yonkav dengan tema "Menjauhui Narkoba" yang diisi langsung oleh salah satu komandan Yonkav Tang 08.

Pada saat itu yang sampaikan dalam seresehan adalah, kita sebagai pemuda harus menjauhi penguna narkoba, biar kita tidak terjerumus dan memakai narkoba, dalam sesi seresahan narasumber menjelaskan bahaya narkoba dan dampaknya keseluruh audien yang ada di aula, kalau nggak salah acara slsai sampai jam 10 malam.

Ketika selesai acara saya dan kawan- kawan perwakilan dari Magetan dan seluruh Jatim kembali ke camp yang ada di lapangan yonkav, ketika waktunya tidur kawan-kawan perwakilan dari KNPI seluruhnya mengadakan diskusi di pinggir camp, membahas tentang tema acara seresahan yang menurut kawan-kawan yang tidak pas tema-nya, salah satu cetukan kawan perwakilan dari Tuban " kita itu bukan menjauhi, tapi mendekati mereka.

Point yang saya ambil dari celutukan kawan dari Tuban adalah, bukan saatnya kita menjauhi penguna narkoba, tapi kita merangkul mereka untuk kembali kejalan yang benar, bukan lagi kita menjauhi tapi merangkul mereka, mungkin bagi adik-adik dari PPMI memang masih dalam tahap menjauhi, tapi bagi kita bukan lagi menjauhi tapi mendekati.

‌*Kenapa kita harus mendekati penguna narkoba*

Mendekati mereka bukan sebuah kesalahan yang besar, jika kita mempunyai tujuan yang baik maka akan menjadi kebaikan, mendekati mereka, merangkul mereka untuk menjauhi dari dunia hitam adalah perbuatan yang sangat mulia.

Bagi saya mendekati mereka adalah wajib, mendekati dengan cara mengikuti alur mereka, dan memberikan pemasukan sedikit, terkadang mengikuti mereka juga harus mengikuti mereka, ada kata-kata "jika kita menolong orang tengelam di sungai kita akan basah untuk menolongnya".

Kemungkinan besar kita juga akan masuk diperangkap mereka atau mengikuti dunia mereka, tapi kalau tidak mengikuti alur mereka, kita sendiri tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari dunia hitam atau dari kecenderungan narkoba.

Ada cerita dari dari kawan dari Tuban, dia menyelamatkan anak punk yang liar dan moralnya rusak yang diakembalikan menjadi anak yang moralnya baik, dia sampai mengikuti alurnya terjerumus narkoba demi menyelamatkan mereka, bahkan setiap jumat pagi anak-anak punk mengadakan kegiatan baksos di pasar-pasar, bahkan mereka tidak menyeruh anak-anak punk untuk berbaju formal, dari kutipan cerita diatas, haruskah menjauhi mereka yang kecaduan narkoba?

‌*Kenapa kita harus menjauhi penguna narkoba"

Memang wajib kita harus menjauhi penguna narkoba, kalau kita masih penasaran dengan narkoba, dan kita masih mempunyai rasa ingin tau dengan narkoba, narkoba sangat membunuh kita, narkoba adalah candu bagi pengunanya.

Bagi adik-adik yang masih labil sangat riskan jika dia mendekati narkoba, karena dia sangat penasaran dengan narkoba maka dia akan terjerumus untuk memakainya, ketika dia sampai memakai jenis narkoba apapun, maka dia akan kecanduan dan akan merusak masa depan mereka.
                                         ****
Dari tulisan diatas, maka menjauhi narkoba wajib bagi adik-adik yang belum siap, tapi bagi mereka yang sudah dewasa untuk menyikapi bahaya narkoba, mendekati mereka penguna narkoba adalah wajib untuk menyelamatkan mereka. Terima kasih semoga bermanfaat tulisan ini

Dimana

Dimana Kau

Dimana aku harus mengadu

Dimana aku harus bersimpu

Dimana aku harus bercerita

Dimana aku harus bertanya

Bukankah kepadamu wahai Robku


Dimana letakMu berada

Dimana posisiMu berada

Dimana aku harus mencarinya

Dimana aku harus menujunya

Bukankah Kau semayam di dalam dada


Ari Kimura 11/04/2017

Setelah Kita

Hembusan terdengar merdu di hidung mancung gadis manis berambut panjang yang tengah menunggu seseorang yang lama ia nanti. Dua tahun lamanya penantian yang ia tunggu berakhir dengan sebuah senyuman manis di bibirnya. Debaran terdengar merdu bersamaan dengan kupu-kupu yang siap keluar dari perutnya. Deretan giginya terlihat berjejer rapi melihat sosok jangkung tengah berdiri tegap di ambang pintu masuk cafe. 

Tangan gadis itu ia lambaikan ke atas agar sang pria mengetahui keberadaannya. Alfa, nama pria itu. Pria itu tersenyum dan mendekati Riska, sosok gadis yang sangat ia cintai dua tahun yang lalu tentu sekarang pun masih sama, pria itu masih mencintainya. 

Duduk berhadapan tanpa ada rasa canggung di keduanya. Masalah mereka seolah menjadi abu tanpa bekas karena terbang bersama angin. Sang pelayan mendekati mereka dengan membawa pesanan yang sudah gadis itu pesan sebelum Alfan memintanya. Satu buah jus storbery milk dan satu cangkir kopi pahit sudah berjejer manis di depan sang pemiliknya. Alfa tersenyum hangat melihat secangkir kopi kesukaannya berada di depannya. Dengan segera ia mengambil pegangan cangkir dan meminumnya sedikit. Sedangkan Riska ia menyeruput jus yang ia pesan.

“Kau masih sama.” Riska menghentikan aktifitasnya dan menatap Alfa dalam. Tersenyum sebagai jawaban atas apa yang pria itu lontarkan. Kembali terdiam tanpa alasan. 

“Ada yang ingin aku katakan padamu.” Alfa menatap Riska detik berikutnya. Entah kenapa keringat dingin memenuhi peluh pria itu ketika gadis yang pernah singgah di hatinya mengeluarkan sebuah  map berwarna coklat. Pria itu tahu betul apa yang dimaksud Riska. Gadis itu menginginkan sesutau darinya.
“Kau tidak lupa dengan surat ini kan?” Pertanyaan yang sama dua tahun silam gadis itu lontarkan. Pria bermata sipit itu tersenyum canggung dan sedikit mengangguk paham.

Dua tahun yang lalu memang kesalahan Alfa yang sudah dengan teganya meninggalkan gadis yang sangat tulus mencintainya, beralih pada cinta yang lain. Ironis memang tapi itu memang takdir bagi keduanya. Takdir pria itu yang menyakiti gadis belia yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas. Wajah manis Riska yang awalnya selalu tersenyum berubah menjadi gadis pemurung, tapi ketika Alfa datang padanya dan memberikan surat perjanjian tentang dirinya membuat gadis itu kembali bersemangat untuk menjalani hidupnya. 

“Kau lupa?’ ulang Riska memastikan.

Gelengan kepala sebagai sebuah jawaban dari pertanyaan gadis itu. Riska tersenyum miring melihatnya. Tahu betul jika Alfa tidak ingin mengungkit tentang surat perjanjian yang telah mereka buat, tapi ini kesempatan bagi Riska untuk kembali seperti semula. Kembali menjadi sosok yang ceria dan selalu bahagia, tentunya tanpa beban. 

Kertas putih berisi dua lembar sudah siap melahap pria itu hidup-hidup. Air liur terdengar menggelikan bagi telinga Riska ketika pria itu menelannya pelan-pelan. Senyum licik kembali terlihat di mimik wajah Riska yang siap merebut semua kebahagiaan yang Alfa ciptakan dan yang sudah tega pria itu menghancurkan rasa kepercayaan diri gadis itu ketika ia masih belia.

“Maafkan aku.” Hanya ucapan maaf yang bisa Alfa berikan pada Riska. Tidak ada jawaban dari Riska, gadis itu tetap kukuh dengan apa yang sudah ia sepakati dengan Alfa sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaan mereka dua tahun yang lalu. 

“Ri, aku minta maaf.” 

Kali ini Riska menatap Alfa dengan tatapan tajamnya. Dirinya henda melampar map di wajah pria itu ketika melihat raut wajah Alfa terlihat menjengkelkan baginya. “Kau mau menghindar? Hah! Ternyata kau sangat mengecut.” Tak ada balasan dari perlakuan Riska padanya. Alfa hanya diam dan menunduk, menahan nafasnya panjang dan berakhir dengan anggukkan lemas.
“Apa kau terpaksa melakukannya.”

“Tidak.” Jawab Alfa cepat.
“Lalu kenapa kau...?”
“Aku kenapa?” Balas Alfa membulatkan matanya kesal.
Dengusan terdengar di bibir Riska melihat rekasi Alfa yang masih sama seperti dua tahun yang lalu. Melipat tangannya di dada, menyilangkan kaki kanan yang berada di atas. Alfa semakin mengeluarakn emosinya melihat senyum mengejek dari wajah Riska. 

“Kau takut?”
“Tidak!” bentak Alfa.
“Kau takut Tuan, aku yakin itu.”
Alfa memejamkan matanya sejenak agar emosinya sedikit berangsur menurun. “Aku bilang tidak Nyonya.” Jawaban Alfa membuat Riska tersenyum kecu. Tidak bisa membendung rasa kesalnya pada Riska dengan terpaksa Alfa kembali mengambil kertas putih yang berisikan tulisan tangan dirinya dengan Riska. 

Terlihat rapi dan memusingkan bagi Alfa pribadi. Entah kenaa ingatannya kembali berputar pada kejadian dua tahun yang lalu. Meninggalkan Riska dengan keadaan yang kacau lalu kembali pada gadis itu membawa sebuah harapan palsu yang sangat menyiksa batinnya sendiri.

“Kau ragu Tuan?” Pertanyaan yang menyulut emosi lagi, batin Alfa menjerit.
“Tidak!” jawab Alfa tegas. 

Mengambil benda panjang berwarna hitam dan membuka tutupnya. Tinta hitam yang mengkilat di ujung benda itu terlihat mengerikan bagi pria itu. Menelan susah payah air liurnya ketika tinta itu mulai menggores kertas yang berada di hadapannya. Alfa berhenti sejenak. Memikirkan konsekuensi apa saja yang akan pria itu peroleh membuat Riska sabar untuk melanjutkan rencana keduanya.
“Kenapa kau diam Tuan?” Suara Riska bagaikan petir di malam yang pekat. Angin yang masuk berada seperti pusaran tornado bagi batinnya. Langit yang cerah ini tidak ingin menjadi saksi akan tingkah dua manusia yang tengah merencakan sesuatu untuk membunuh pejabat tetinggi. 

“Apa kau dendam padaku?” 

Riska tersenyum menanggapi pertanyaan mantan kekasihnya itu, “Tidak!” gadis itu meminum jus stoberi milknya, menatap pria itu tajam. “Aku tidak berhak dendam padamu Tuan.” Jawaban gadis itu seolah menusuk kerongkongan pria itu. 

“Lalu, apa kau membenciku?” Riska kembali menatap pria itu tajam. Memalingkan wajahnya tidak ingin pria itu melihat raut wajahnya yang sangat ketara membenci pria itu. “Kau membenciku?” ulang pria itu untuk memastikan jika Riska tidak membencinya. 

“Untuk apa aku membencimu Tuan.” Balas Riska merasa malas dengan sikap Alfa yang sangat menyebalkan baginya. Gadis itu menatap kertas yang masih kosong belum tersentuh oleh tinta hitam Alfa. “Kau harus mendatanganinya Tuan.”

Alfa menghembuskan nafasnya pasrah atas prilaku Riska padanya. Tentu tidak salah bagi Riska bersikap demikian karena Alfa dengan teganya menyakiti hati tulus gadis sepertinya. Tapi Tuhan berkehendak lain, jujur saja jika Alfa bisa memilih dirinya juga akan selalu bersama dengan gadis yang sangat ia cintai tapi sekali lagi takdir berkata lain, dia dan Riska tidak mungkin menjalin sebuah hubungan yang intim seperti dua tahun yang lalu. 

Tinta hitam menggores kertas itu dengan apiknya, senyum miris terlihat

Penulis Cerpen : WS

TRANSLITE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pengikut

Visitor

free counters
Copyright © Catatan Ari Kimura. All rights reserved. Template by CB